Minggu, 22 Oktober 2017

ILMU BUDAYA DASAR



‘Budaya On Time, Haruskah?’
Oleh    : Ifrahil Qolby
 BUDAYA TERLAMBAT
Siapa yang sering ngaret?. Waktu janjian jam empat, datangnya jam enam. Masih bisa ditolerir. Tapi, kalau jam enam masih dijalan terjebak macet dan molor sejam lagi, bagaimana?. Waduh, bisa bahaya urusan. Apalagi jika sangat penting alias darurat. Percayakah kalian kalau budaya On Time atau tepat waktu itu sangatlah berdampak pada kepribadian bahkan budaya?.
Misal, ada seorang karyawan yang selalu datang ke kantornya tepat waktu. Namun, adakalanya karyawan jadi lengah dan akhirnya terlambat ke kantor. Karena peraturannya lemah, si karyawan pun lolos dengan mudah tanpa mendapat sanksi. Lambat laun, sang karyawan yang rajin dan selalu tepat waktu itupun jadi makin sering terlambat dengan berbagai alasan yang tidak penting bahkan terkesan konyol. Karena merasa tidak ditindak apapun. Kini, si karyawan jadi ketagihan terlambat dan menganggap remeh waktu. Dan rekan-rekan yang melihat pun akhirnya ikut-ikutan. Dan jadilah kantor tersebut dipenuhi para pegawai yang sering molor.
Tepat waktu memang sudah jadi budaya di Negara maju. Kita ambil contoh, Negara Jepang.  Di jepang, waktu merupakan hal yang sangat dihormati dan dijaga masyarakat. Jika terlambat dalam pertemuan penting selang beberapa menit saja. Orang tersebut akan dianggap tidak menghargai para undangan yang hadir. Jika beruntung, ia hanya terkena sanksi yang ringan. Dan jika sedang sial, ia bisa terancam dipecat dan dikeluarkan dari kantor. Memang terdengar berlebihan. Namun, jika tidak diberi efek jera maka perbuatan tidak menghormati waktu tersebut akan makin sering terjadi dan perlahan membudaya.

 KESIMPULAN
Seing datang terlambat dapat berdampak negative pada kepribadian tiap kalangan. Khususnya para pelajar dan mahasiswa yang masih mengenyam pendidikan. Adapun beberapa dampak negative yang sudah dirangkum tersebut adalah.
·         Menjadi tidak disiplin, dan malas mengikuti pelajaran.
·         Pelajar menjadi tidak bertanggung jawab. Awalnya hanya pada waktu, lambat laun akan menular pada hal yang lainnya.
·         Cenderung menganggap remeh peraturan yang ada.
·         Pelajar yang sering datang terlambat, terutama pada jam pelajaran pertama. Dapat menganggu guru atau dosen yang sedang menyampaikan materi dan teman-teman yang lain.
·         Iika sudah merasa nyaman dengan keterlambatan, biasanya pelajar lain akan ikut dan perlahan akan menjadi budaya di sekolah atau kampus.


Yang harus kita ingat sebagai pelajar adalah. Jangan biasakan terlambat. Karena jika hal tersebut sudah sering dilakukan dan menjadi budaya. Bagaimana kita sebagai penerus bangsa kelak yang akan menjalankan roda kehidupan berbangsa dan bernegara di bumi tercinta kita ini. Hanya mereka yang terdidik, berdisiplin, dan berkualitas secara mental dan spiritual akan mampu mengemban amanah yang diberikan para terdahulu kita.
“Waktu adalah pedang, jika kamu tidak memotongnya ia akan memotongmu!”.
(Sekian).