‘Budaya
On Time, Haruskah?’
Oleh : Ifrahil Qolby
BUDAYA TERLAMBAT
Siapa yang sering ngaret?. Waktu janjian jam empat, datangnya jam enam. Masih bisa ditolerir. Tapi, kalau jam enam masih dijalan terjebak macet dan molor sejam lagi, bagaimana?. Waduh, bisa bahaya urusan. Apalagi jika sangat penting alias darurat. Percayakah kalian kalau budaya On Time atau tepat waktu itu sangatlah berdampak pada kepribadian bahkan budaya?.
Siapa yang sering ngaret?. Waktu janjian jam empat, datangnya jam enam. Masih bisa ditolerir. Tapi, kalau jam enam masih dijalan terjebak macet dan molor sejam lagi, bagaimana?. Waduh, bisa bahaya urusan. Apalagi jika sangat penting alias darurat. Percayakah kalian kalau budaya On Time atau tepat waktu itu sangatlah berdampak pada kepribadian bahkan budaya?.
Misal,
ada seorang karyawan yang selalu datang ke kantornya tepat waktu. Namun,
adakalanya karyawan jadi lengah dan akhirnya terlambat ke kantor. Karena peraturannya
lemah, si karyawan pun lolos dengan mudah tanpa mendapat sanksi. Lambat laun,
sang karyawan yang rajin dan selalu tepat waktu itupun jadi makin sering
terlambat dengan berbagai alasan yang tidak penting bahkan terkesan konyol. Karena
merasa tidak ditindak apapun. Kini, si karyawan jadi ketagihan terlambat dan
menganggap remeh waktu. Dan rekan-rekan yang melihat pun akhirnya ikut-ikutan. Dan
jadilah kantor tersebut dipenuhi para pegawai yang sering molor.
Tepat
waktu memang sudah jadi budaya di Negara maju. Kita ambil contoh, Negara Jepang.
Di jepang, waktu merupakan hal yang
sangat dihormati dan dijaga masyarakat. Jika terlambat dalam pertemuan penting selang
beberapa menit saja. Orang tersebut akan dianggap tidak menghargai para
undangan yang hadir. Jika beruntung, ia hanya terkena sanksi yang ringan. Dan
jika sedang sial, ia bisa terancam dipecat dan dikeluarkan dari kantor. Memang terdengar
berlebihan. Namun, jika tidak diberi efek jera maka perbuatan tidak menghormati
waktu tersebut akan makin sering terjadi dan perlahan membudaya.
KESIMPULAN
KESIMPULAN
Seing
datang terlambat dapat berdampak negative pada kepribadian tiap kalangan. Khususnya
para pelajar dan mahasiswa yang masih mengenyam pendidikan. Adapun beberapa
dampak negative yang sudah dirangkum tersebut adalah.
·
Menjadi tidak disiplin, dan malas
mengikuti pelajaran.
·
Pelajar menjadi tidak bertanggung jawab.
Awalnya hanya pada waktu, lambat laun akan menular pada hal yang lainnya.
·
Cenderung menganggap remeh peraturan
yang ada.
·
Pelajar yang sering datang terlambat, terutama
pada jam pelajaran pertama. Dapat menganggu guru atau dosen yang sedang
menyampaikan materi dan teman-teman yang lain.
·
Iika sudah merasa nyaman dengan
keterlambatan, biasanya pelajar lain akan ikut dan perlahan akan menjadi budaya
di sekolah atau kampus.
Yang
harus kita ingat sebagai pelajar adalah. Jangan biasakan terlambat. Karena jika
hal tersebut sudah sering dilakukan dan menjadi budaya. Bagaimana kita sebagai
penerus bangsa kelak yang akan menjalankan roda kehidupan berbangsa dan
bernegara di bumi tercinta kita ini. Hanya mereka yang terdidik, berdisiplin,
dan berkualitas secara mental dan spiritual akan mampu mengemban amanah yang
diberikan para terdahulu kita.
“Waktu adalah pedang, jika kamu
tidak memotongnya ia akan memotongmu!”.
(Sekian).
